- Menulis Kreatif Naskah Drama

nilai efektif
R rangkaian AC
L dalam Rangkaian AC
C dalam rangkaian AC
R dan L dalam rangkaian AC
Rdan C dalam rangkaian AC
R,C dan L dalam rangkaian AC
menulis kreatif naskah drama

Unsur Instrinsik Drama

Saat kamu menyaksikan sebuah drama yang dilakonkan, emosimu pun terlibat dalam cerita yang diperankan tersebut. Itu artinya, penulis naskah drama tersebut mampu membangun sebuah cerita menjadi konflik pada masing-masing tokoh sehingga cerita mengalir sebagaimana kejadian sesungguhya. Hal itu tidak terlepas dari kemahiran penulis naskah untuk menghidupkan drama tersebut. Nah, tertarikkah kamu untuk menulis sebuah naskah drama? Untuk dapat menulis naskah drama yang baik dan menarik, diperlukan latihan dan pemahaman tentang unsur-unsur yang dapat membangun sebuah naskah drama. Unsur-unsur tersebut disebut juga dengan unsur intrinsik drama. Unsur-unsur intrinsik drama, yaitu :

Agar kamu lebih memahami setiap unsur-unsur tersebut, perhatikan penjelasan berikut.

1.  Alur/Plot

Alur disebut juga plot. Alur adalah jalinan atau rangkaian peristiwa berdasarkan hubungan waktu dan hubungan sebab- akibat. Sebuah alur cerita juga harus menggambarkan jalannya cerita dari awal (pengenalan) sampai akhir (penyelesaian). Alur cerita terjalin dari rangkaian ketiga unsur, yaitu dialog, petunjuk laku, dan latar/setting. Sebuah alur dapat dikelompokkan dalam beberapa tahapan, sebagai berikut.  

  1. Pengenalan
    Pengenalan merupakan bagian permulaan pementasan drama, pengenalan para tokoh (terutama tokoh utama), latar pentas, dan pengungkapan masalah yang akan dihadapi penonton.

    Perhatikan penggalan teks drama berikut ini! .

    Pentas menggambarkan sebuah ruangan kelas  waktu pagi hari. Tampak di sana beberapa meja kursi, kurang begitu teratur rapi. Beberapa papan majalah dinding tersandar di dinding dan di meja.

    -->

    Pengenalan latar pentas

       

    Seorang pemuda pelajar sedang duduk di atas meja. Ia bersilang tangan. Pemuda itu Anton namanya. Ia adalah Pemimpin Redaksi majalah dinding itu. Sedangkan Rini, Sekretaris Redaksi, duduk di kursi.

    --> Pengenalan para tokoh
       

    Waktu itu hari Minggu., Anton tampak kusut.  Wajahnya muram. Ia belum mandi, hanya mencuci muka dan gosok gigi. Ia terburu-buru ke sekolah karena mendengar  berita dari Wilar, Wakil Pimpinan Redaksi, bahwa majalah dinding itu dibreidel oleh Kepala Sekolah, gara-gara karikatur Trisno mengejek Pak Kusno, guru karate.

    -->

    Pengungkapan masalah



  2. Pertikaian
    Setelah tahap pengenalan, drama bergerak menuju pertikaian yaitu pelukisan pelaku yang mulai terlibat ke dalam masalah pokok.  

    Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!

    Anton  : Tapi masih ada satu bahaya.
    Rini  : Rini 
    Kardi : Nasib Trisno, karikaturis kita itu?
    Anton  : Bisa jadi  dia akan celaka.

    Pada kutipan di atas terlihat bahwa drama sudah mulai masuk ke dalam tahap pertikaian atau konflik. Penggambaran masalah sudah semakin jelas bahwa Trisno sudah membuat karikatur yang mengejek. Kejadian itu berbahaya seperti terlihat pada perkataan Rini pada dialog di atas, yaitu "Bahaya?".

  3. Puncak,
    Pada tahap ini pelaku mulai terlibat dalam masalah-masalah pokok dan keadaan dibina untuk menjadi lebih rumit lagi. Keadaan yang mulai rumit ini, berkembang hingga  menjadi krisis. Pada tahap ini penonton dibuat berdebar, penasaran  ingin mengetahui  penyelesaiannya.

    Perhatikan  petikan drama berikut ini!

    Trisno : Aku bilang, ide itu ide ...
    Anton : Ide Anton?
    Trisno  : Ide Albertus Sutrisno sang pelukis! Dengar?
    Rini  : Tapi kaubilang sudah ada persetujuan dari Pimpinan Redaksi?
    Trisno : Aku bilang bahwa  tanpa sepengetahuan Anton, aku pasang karikatur itu. Sepenuhnya tanggung jawab saya. Dengar?
    Kardi  : Edaaaaan. Pahlawan tenan iki.
    Anton : Kenapa kaubilang begitu. Menghina aku, Tris? Aku yang suruh kau
    melukis itu. Aku penanggungjawabnya. Akulah yang mesti  digantung ... bukan kau!

    Pada kutipan di atas dapat dilihat bahwa puncak masalah itu  adalah Anton tidak menyetujui tindakan Trisno yang mencoba membelanya. Anton menganggap Trisno telah menghinanya, seperti terlihat pada kutipan dialog yang dicetak tebal di atas.

  4. Penyelesaian
    Pada tahap ini dilukiskan bagaimana sebuah drama berakhir dengan penyelesaian yang menggembirakan atau menyedihkan.  Bahkan dapat pula diakhiri dengan hal yang bersifat samar sehingga mendorong  penonton untuk mengira-ngira dan memikirkan sendiri akhir sebuah cerita.

    Perhatikan penggalan teks  drama berikut ini!

    Anton : Kau ketemu dia, pagi ini?
    Wilar : Dia mau!
    Anton : Mau.
    Rini  : Mau?
    Wilar   Jelas. Malah dia bilang begini. Aku wakil kelas kalian. Aku ikut bertanggung jawab atas perbuatan kalian terhadap  Pak Kusno. Tapi  kalian tidak boleh bertindak sendiri. Diam saja. Aku yang akan maju ke  Bapak Kepala sekolah. Aku akan menjelaskan bahwa Pak Kusno  memang  kurang beres.  Tapi kalau kalian berbuat dan bertindak sendiri- sendiri, main corat-coret, atau membikin onar, kalian akan aku laporkan polisi.

    Pada tahap penyelesaian drama ini dapat dilihat bahwa drama ini berakhir dengan bahagia karena permasalahan karikatur Trisno yang mengejek Pak Kusno akan diselesaikan oleh salah satu guru, seperti kalimat yang dicetak tebal pada kutipan di atas.

2. Perwatakan atau karakter tokoh

Tokoh adalah orang-orang yang berperan dalam drama. Dalam cerita, umumnya terdapat tokoh baik (protagonis) dan tokoh jahat (antagonis). Tokoh-tokoh drama disertai penjelasan mengenai nama, umur, jenis kelamin, ciri-ciri fisik, jabatan, dan keadaan kejiwaannya. Watak tokoh akan jelas terbaca dalam dialog dan catatan samping. Watak tokoh dapat dibaca melalui gerak-gerik, suara, jenis kalimat, dan ungkapan yang digunakan.

Perhatikan penggalan teks drama berikut ini! .

Lurah : Saya mesti tetap  memikirkannya, Pak Jagabaya. Sebagai seorang  lurah, saya tidak akan berdiam diri  menghadapi persoalan ini.
Jagabaya : Tapi, maaf, Pak Lurah, saya rasa tindakan Pak Lurah dalam  menghadapi persoalan ini kurang tegas. Maaf, Pak Lurah  kurang cak-cek, kurang cepat.
Lurah : Memang, saya sadari saya kurang tegas dalam  hal ini. Ini saya  sadari betul, Pak Jagabaya. Tapi tindakan saya yang  kurang cepat ini sebetulnya bukan berarti apa-apa. Terus terang dalam  menghadapi  persoalan ini saya tidak mau grasa-grusu.
Jagabaya : Memang tidak perlu grusa-grusu, Pak Lurah. Tapi, tidak grusa- grusu bukan pula berarti diam saja dan hanya plompang-plompong menunggu berita. Pak Lurah kan tinggal memberikan perintah atau izin kepada saya untuk mengadakan ronda kampung tiap malam.


Dari dialog antara Pak Lurah dengan Pak Jagabaya di atas dapat dilihat bahwa perwatakan atau karakter kedua tokoh tersebut langsung diceritakan oleh pengarang, seperti gabungan kata yang tercetak tebal pada teks drama di atas. 

3. Dialog

Ciri khas suatu drama adalah naskah tersebut berbentuk percakapan atau dialog. Penulis naskah drama harus memerhatikan pembicaraan yang akan diucapkan. Ragam bahasa dalam dialog antartokoh merupakan ragam lisan yang komunikatif.

Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!  

Yanti : Lebih dari itu, aku lebih ingin menyelesaikan persoalan. Cara seperti  itu tidak  menyelesaikan persoalan. Itu bahkan menyiksa. Makin menyiksa.
Asdiarti : Lalu, mesti gimana?
Yanti : Aku tak mengerti.
Asdiarti : Tidak mengerti?

Disebut dialog karena percakapan itu minimal dilakukan oleh dua orang. Nah, kutipan teks drama di atas dapat disebut sebagai dialog karena diucapkan secara bergantian oleh tokoh yang bernama Yanti dan Asdiarti. Selain dialog, dalam drama juga dikenal istilah monolog (adegan sandiwara dengan pelaku tunggal yang membawakan percakapan seorang diri; pembicaraan yang dilakukan dengan diri sendiri), prolog (pembukaan atau pengantar naskah yang berisi keterangan atau pendapat pengarang tentang cerita yang akan disajikan), dan epilog (bagian penutup pada karya sastra yang fungsinya menyampaikan intisari atau kesimpulan pengarang mengenai cerita yang disajikan). 

4. Petunjuk laku

Petunjuk laku atau catatan pinggir berisi penjelasan kepada pembaca atau para pendukung pementasan mengenai keadaan, suasana, peristiwa, atau perbuatan, tokoh, dan unsur-unsur cerita lainnya. Petunjuk laku sangat diperlukan dalam naskah drama. Petunjuk laku berisi petunjuk teknis tentang tokoh, waktu, suasana, pentas, suara, keluar masuknya aktor atau aktris, keras lemahnya dialog, dan sebagainya. Petunjuk laku ini biasanya ditulis dengan menggunakan huruf yang dicetak miring atau huruf besar semua. Di dalam dialog, petunjuk laku ditulis dengan cara diberi tanda kurung di depan dan di belakang kata atau kalimat yang menjadi petunjuk laku)

Perhatikan petikan drama berikut!

Panggung menggambarkan suatu kelas. Ada tiga atau empat meja, kursi murid, sebuah meja dan kursi untuk guru, dan sebuah papan tulis. Letak  perlengkapan itu diatur sedemikian rupa sehingga memberikan kesan sebuah kelas. Yanti, seorang pelajar, tampak tengah duduk di salah satu meja itu. Ia menekuni sebuah buku pelajaran.

Asdiarti : (Masuk dan terkejut melihat Yanti masih di kelas) Kau masih disini, Yanti?  Belum pulang?
Yanti  : (Tidak menjawab. Ia hanya menggeleng-geleng, dan terus  melanjutkan membaca)
Asdiarti : (Mendekati) Ada sesuatu?
Yanti  : (Menggeleng)

 

5.  Latar atau setting

Latar atau tempat kejadian sering disebut latar cerita. Pada umumnya, latar menyangkut tiga unsur, yaitu tempat, ruang, dan waktu.

Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!

Asdiarti : Maka kita gelisah. Karena sebenarnya kita tak pernah mengerti nasib   kita yang akan datang.
Yanti : Dan persoalannya yang kita hadapi itu, tidak bisa dipecahkan dengan  ilmu pengetahuan yang akan kita terima di sekolah sekarang ini.
Asdiarti : Kau mau? (Mengeluarkan sebatang rokok)
Yanti : (Menerima lalu diletakkan di atas meja)
Asdiarti : Ambillah. Simpanlah di  tasmu. Jangan sampai kelihatan guru kita.


Dari penggalan teks  drama di atas  dapat diketahui bahwa latar cerita tersebut adalah di salah satu ruang yang ada di sekolah. Hal ini ditunjukkan dengan  kata-kata   tercetak tebal yang  menunjukkan bahwa dialog tersebut dilakukan di sebuah kelas.

7. Tema

Tema merupakan gagasan pokok yang terkandung di dalam drama. Tema dikembangkan melalui alur dramatik melalui dialog tokoh-tokohnya. Tema drama misalnya kehidupan, persahabatan, kesedihan, dan kemiskinan.

Perhatikan penggalan teks drama berikut ini

Fani dan Gina sedang menangis, dengan suara yang enak didengar, dengan komposisi yang sedap dipandang.

Hana  : (Muncul tertegun, mendekati kedua temannya) Ada apa ini? Fani,   Gina, mengapa? Katakanlah, siapa tahu aku dapat membantu.  Ayolah, Fani, apa yang terjadi? Ayolah, Gina, hentikan sebentar tangismu!
 
Fani dan Gina tidak menggubris Hana. Mereka terus menangis secara memilukan.
 
Hana : Ya, Tuhan! Duka macam apakah yang Kaubebankan kepada kedua temanku ini? Dan apa yang harus kulakukan bila aku tidak tahu sama sekali persoalannya semacam ini? Fani, Gina, sudahlah! Kita memang wanita sejati, tanpa ada seorang pun yang berani   meragukan, dan oleh karena itu pula maka kita juga  berhak istimewa untuk menangis. Namun apa pun persoalannya tidaklah wajar membiarkan sahabat kebingungan semacam ini, sementara kalian berdua menikmati indahnya tangisan dengan enaknya. Ayolah, hentikan tangis kalian. Kalau tidak, ini akan dianggap sebagai penghinaan yang tak termaafkan, dan sekaligus akan mengancam kelangsungan persahabatan kita.

Tema kutipan teks drama di atas adalah tentang persahabatan tiga orang, yaitu Fani, Gina, dan Hana. Tema dalam sebuah cerita, baik novel, maupun drama, tidak semua seperti contoh di atas yang langsung diungkapkan oleh pengarang. Namun, lebih banyak tema sebuah cerita dapat ditentukan setelah membaca keseluruhan cerita

8. Amanat

Dalam karyanya, pengarang pasti menyampaikan sebuah amanat.  Amanat merupakan pesan atau nilai-nilai moral  yang bermanfaat  yang terdapat   dalam drama. Amanat dalam drama bisa diungkapkan secara langsung (tersurat), bisa juga tidak langsung atau memerlukan pemahaman lebih lanjut (tersirat). Apabila penonton menyaksikan drama dengan teliti, dia dapat menangkap pesan atau nilai-nilai moral tersebut. Amanat akan lebih mudah ditangkap jika drama tersebut dipentaskan.

Perhatikan penggalan  teks drama berikut ini.

Kakek : Manusia harus menghayati hidupnya, bukan menghayati disiplin mati  itu ...  doktrin-doktrin itu harus ... harus ...
Nenek : Suamiku, sudahlah nanti penyakit napasmu kumat lagi kalau kau terlalu bersemangat begitu ...
Kakek : Kreativitas harus dibangkitkan. Bukan dengan konsep-konsep  tetapi  dengan merangsangnya...dengan menggoncangkan  jiwanya ... agar tumbuh keberaniannya menjadi dirinya sendiri. Tidak menjadi manusia bebek. Yang  cuma meniru-meniru ...(Kakek rebah, Nenek menjerit)
Nenek : (Tersedu)

Pada kutipan di atas, amanat petikan drama tersebut diungkapkan secara tersurat  oleh pengarang, yaitu  ”Kreativitas harus dibangkitkan.